Masukkan Kata Kunci
  Bila Perusahaan Anda Berkeinginan Mengisi Space Iklan Web ATN Center Hub. 081281012345  
 
Fokus Aktual
Minggu, 12 Mei 2013
Gubernur Teras Narang Resmi Buka STQ XIX
Jum'at, 10 Mei 2013
Teras : Tiga Kabupaten Belum Tetapkan WPR
Kamis, 9 Mei 2013
Teras : APEKSI Bisa Hasilkan Rekomendasi Tata Ruang
Kamis, 9 Mei 2013
Mendagri: Pertumbuhan Kalteng Luar Biasa
Selasa, 7 Mei 2013
Teras Narang Masuk Daftar Capres Alternatif
Selasa, 7 Mei 2013
Teras Narang Surati SBY
Index Berita

Topik Pilihan
Jum'at, 29 Mei 2009
PROSES FINALISASI RTRWP KALTENG
Jum'at, 29 Mei 2009
Konsultasi Publik Kereta Api
Kamis, 29 Maret 2007
INPRES PLG
Sabtu, 18 November 2006
Pertemuan Indonesian Regional Invesment Forum
Selasa, 5 September 2006
Bejana yang Sedang Ditempa
Index Topik Pilihan

Album Foto
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang berbaur bersama 4 ribu peserta karnaval budaya dan Parade Lintas Etnis dalam rangka HUT Kalteng ke-56 di Palangka Raya, Sabtu (18/5).
Selengkapnya

Selasa, 5 September 2006
Jangan Menutup-nutupi Kemiskinan
ATN-Center - Satu pernyataan lugas soal kemiskinan dilontarkan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang. Gubernur Kalteng meminta media massa jangan menutup-nutupi keadaan di lapangan. Dia berharap, media massa bisa mengungkapkan fakta sebenarnya tentang keadaan masyarakat Kalteng di tengah kondisi perekonomian yang sulit saat ini.

Kondisi dimaksud gubernur Kalteng dalam bahasa formalnya adalah, saat ini pembangunan di daerah itu masih memprihatinkan. Tetapi maksud dari ungkapan itu yakni masih terjadi kemiskinan di Kalteng.

Kita salut atas sikap kepala daerah seperti gubernur Kalteng ini. Biasanya, pejabat lebih suka mendengar hal yang menyenangkan. Demikian juga kalau memberikan laporan ke atasan, selalu hal yang yang menyenangkan. Maka hiduplah budaya Asal Bapak Senang alias ABS. Sikap ABS sempat menjadi-jadi di era sebelum sekarang. Ketika reformasi berlangsung di negeri ini, sikap tersebut turut digugat dan praktik ABS nyaris tak terdengar lagi.

Pernyataan Agustin Teras Narang selaku gubernur Kalteng menunjukkan, dia tidak ingin menerima laporan ABS dan dia sendiri juga menyampaikan laporan ke atasan tidak ABS. Setidaknya ini bisa kita simak dari ucapannya yang dikutip dalam pemberitaan. Gubernur Kalteng menyatakan: "Saya minta media tidak menutup-nutupi keadaan. Soroti dan beritakan keadaan masyarakat senyatanya. Saya juga sudah mengirim surat kepada Menkokesra, Menko Perekonomian dan Bapak Presiden untuk bertemu dan berdialog. Saya tidak akan menutup-nutupi keadaan kita dan akan saya ceritakan bagaimana kemiskinan yang terjadi di Kalteng."

Paradigma kemiskinan memang perlu diubah. Kemiskinan selama ini dipersepsikan sebagai sesuatu yang aib. Oleh karena itu, kemiskinan tidak boleh terjadi. Pemikiran yang demikian harus diubah. Sebab tidak seorang pun di muka bumi ini yang menghendaki menjadi miskin. Seluruh umat manusia menghajatkan hidup layak dan berkecukupan, yang berarti jauh dari kemiskinan. Kalau ternyata takdir menentukan orang hidup dalam kemiskinan, maka kita harus berupaya untuk mengubah agar orang itu terentaskan dari kemiskinan.

Inilah jalan keluar yang seperti diinginkan Teras Narang, yang dengan jujur menyatakan pihaknya berusaha keras melakukan terobosan untuk mencari solusi memecahkan masalah yang ada seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan.

Angka kemiskinan di Kalteng cenderung meningkat. Data 2004 menunjukkan, angka kemiskinan hanya sekitar 27,6 persen dan pada 2005 meningkat tajam menjadi 41,8 persen. Angka ini tentu saja membuat miris semua pihak, mengingat Kalteng mempunyai potensi sumberdaya alam yang melimpah.

Gubernur Kalteng mengaku terbantu oleh keberadaan media massa baik media cetak maupun elektronik di Kalteng, yang mampu mengomunikasikan program pembangunan kepada masyarakat. Selain itu, berita yang dilansir media massa juga memberi masukan kepadanya untuk melihat kondisi perkembangan di daerah.

Terhadap tantangan gubernur Kalteng ini, media massa harus menerimanya dengan semangat tinggi. Momentum yang diletakkan Agustin Teras Narang harus dimanfaatkan agar media massa khususnya yang ada di daerah itu, menunjukkan peran dan fungsinya. Kesan, media yang hanya menyiarkan berita bagus harus dikikis habis. Bersamaan dengan pernyataan gubernur, saatnya media massa menginformasikan secara jelas potret daerah. Kalau miskin, ya sampaikan miskin tanpa harus mengubah yang pahit itu menjadi manis.

Langkah media massa menyuarakan kemiskinan di daerahnya apa adanya, memang menjadi tuntutan profesionalisme. Hal itu dimaksudkan untuk membantu transparansi dalam pembangunan daerah. Jadi, masyarakat mengetahui apa yang dibangun dan berapa anggarannya sehingga mereka bisa turut mengawasi. Pemerintah dan DPRD akan terus mendukung sikap keterbukaan media massa. Kita semua harus memahami betul makna peribahasa serapat-rapatnya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga.
Sumber : Banjarmasin Post


.