ATN-Center - Institut Injil lndonesia (III) di Kota Wisata Batu, Malang, Jawa Timur, untuk pertama kalinya, menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki prestasi dan berkontribusi dalam pembangunan di Indonesia. Salah satu penerima anugerah kehormatan tersebut adalah Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang.
Lembaga pendidikan yang berdiri 49 tahun lalu
ini, menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada
5 tokoh Kristen nasional atas karya-karya luar biasa mereka di bidang
pendidikan, sosial, kemasyarakatan, dan keagamaan.
Pemberian gelar terangkai dalam Rapat Terbuka
Senat Institut Injil Indonesia
dalam rangka Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) di
Convention Hall Bukit Zaitun, Komplek Kampus III, dengan disaksikan ribuan
undangan dari berbagai daerah, termasuk Kalteng, Sabtu (28/7).
Kelima tokoh Kristen itu, di antaranya, Agustin
Teras Narang, SH (Gubernur Kalteng) dianugerahi Doktor Honoris Causa (DR)
bidang kepemimpinan sosial-politik, dan Pdt DR Saur
Hasugian, M.Th (Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI) dianugerahi Doktor
Divinitas (D.D). Kemudian, Hashim S Djojohadikusumo (pengusaha
internasional dan Ketua Nasional Kebaktian Tahunan Nasional Yayasan Pelayanan
Pekabaran Injil Indonesia Batu periode
2009-2012) dianugerahi Doktor Honoris Causa (DR) bidang ekonomi kemasyarakatan.
DR Solfianus Reimas (Ketua Umum
Persekutuan Gereja dan Lembaga Gerejawi Injili Indonesia) yang dianugerahi
Doktor Divinitas (D.D) serta Pdt Roland Mesach Octavianus (Ketua Umum Yayasan
Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia Batu dan pernah 9 kali berturut-turut
menjadi Rektor Institut Injil Indonesia) dianugerahi Doktor Honoris Causa (DR)
bidang kepemimpinan pendidikan keagamaan.
Promotor penganugerahan gelar doktor kehormatan, Prof Dr Bambang TK Garang, menjelaskan alasan Institut Injil
Indonesia memilih 5 tokoh tersebut. Menurut Prof Bambang Garang, pihaknya telah
mempelajari karya dan dokumen yang berhubungan dengan mereka dan melakukan
pengamatan yang panjang.
Teras Narang,
tokoh dan aset daerah serta nasional, bidang politik telah berkarya sesuai
perannya. Sebagai gubernur dan politikus di
Indonesia, ia telah
berperan banyak sehingga membuat Kalteng berkembang signifikan. Selain itu,
menjadi Ketua Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan Presiden MADN.
“Beliau adalah
pemimpin yang memerhatikan budaya nasional dan daerah, dengan harapan terjadi
pembangunan yang seimbang melalui program Kalteng Harati (cerdas). Di bidang
keagamaan Bapak Teras banyak memberikan spirit dan mendapatkan 30 penghargaan
di berbagai bidang,” kata Bambang.
Saur
Hasugian, lanjut Bambang, telah
berperan mengangkat mutu pendidikan sekolah kristen, sebelum jadi dirjen sudah
berperan sebagai dosen hingga pembantu rektor theologia dan melakukan pelayanan
hingga dapat mengejar ketertinggalan.
Sedangkan Hashim, dinilai berperan dalam bidang ekonomi, mengabdi di Indonesia
melalui pembangunan ekonomi kerakyatan, UMKM dan ekonomi kerakyatan. Solfianus Reimas, dinilai layak karena ia sebagai tokoh Kristen yang konsentrasi di gereja dan
bidang keagamaan, berperan sebagai pendidik dan kader pemimpin bangsa melalui
persekutuan gereja.
Terahir, Roland Masach
Octavianus, ketua theologia di persekutuan gereja, berperan sebagai dewan pendidikan yang
memimpin sekolah dari TK hingga SMA. “Jasa beliau adalah berperan sebagai
rektor 2001 - 2011 Institut Injil Indonesia,” kata Bambang.
Sebelum menerima anugerah gelar doktor,
kelima tokoh tersebut menyampaikan orasi ilmiahnya di depan ribuan pasang mata
yang mengikuti jalannya kegiatan. Setelah itu, penganugerahan gelar Doktor
secara khusus dilakukan oleh Ketua Pendiri/Pembina Yayasan Pelayanan
Pekabaran Injil Indonesia Pdt DR Petrus
Oktavianus, D.D, PhD dan Rektor III Dr Stevri Indra Lumintang, D.Th, Th.D, yang
mempimpin rapat terbuka tersebut.
Menurut Stevri, penganugerahan gelar Doktor
kehormatan itu bertujuan untuk memberikan apresiasi akademik atas prestasi dan
karya-karya monumental bagi gereja, masyarakat dan bangsa Indonesia di
segala bidang.
“Selain
itu, untuk menstimulasi dan memberikan semangat anak bangsa lainnya
supaya meningkatkan peran dan kesaksian Kristennya di tengah-tengah masyarakat,
bangsa dan Negara melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan,
kemasyarakatan dan kemanusiaan,“ terang Stevri, saat menyampaikan sambutan
rapat terbuka.
Penganugerahan doktor itu, ujarnya,
sejalan dengan visi dan misi III bahwa studi theologia tidak hanya berkaitan
dengan upaya menggali dan memahami kitab suci (teks), melainkan juga mengetahui
persis kondisi kehidupan masyarakat (konteks). Dengan demikian, theologia itu
menjadi upaya untuk membawa teks kepada konteks sesuai dengan salah satu
rumusan doa yang diajarkan Tuhan Yesus, yakni datanglah kerajaan-Mu, di mana
prinsip-prinsip kerajaan surga juga diterapkan di dunia.
Dalam hal ini, masih menurut Stevri, theologia
tidak lagi hanya berkenaan dengan percakapan tentang surga, melainkan juga
tentang dunia. “Itulah sebabnya theologia tidak hanya berhenti di ruang-ruang
kuliah dan di dalam gedung-gedung gereja, tetapi harus berada di tengah-tengah
arena kehidupan manusia, termasuk di tempat pangkalan tukang ojek, di
pasar-pasar rakyat, dan gedung-gedung wakil rakyat,” kata Stevri, memberi gambaran.
Hal ini pula, sambungnya, telah dilakukan para
promovendus dalam orasi ilmiahnya mengenai iman mereka yang dimanifestasikan
melalui perbuatan nyata sebagai warga gereja dan nasyarakat Indonesia yang baik. Itulah
theologia. Mereka tidak hanya berbicara mengenai surga melainkan telah
‘menghadirkan’ surga melalui prinsip-prinsip surgawi di bumi, khususnya bumi
Pancasila dalam perannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial,
ekonomi, politik, dan agama. Mereka dinilai Stevri telah berperan sebagai
dwi-status, sebagai anak Tuhan yang sekaligus sebagai anak bangsa Indonesia.
(ATN-Center)