Masukkan Kata Kunci
  Bila Perusahaan Anda Berkeinginan Mengisi Space Iklan Web ATN Center Hub. 021-53121927  
Fokus Aktual
Selasa, 7 September 2010
Izin 23 Perusahaan di Kawasan PLG Akan Dicabut
Selasa, 7 September 2010
Pencaplokan Lahan Diancam Pidana dan Pencabutan Izin
Selasa, 7 September 2010
Kabupaten/Kota se Kalteng Diminta Laporkan Data Pegawai
Jum'at, 3 September 2010
Kucuran Dana Baru 10 Persen, Gubernur Usulkan Inpres Diperpanjang
Selasa, 31 Agustus 2010
Bantuan Keagamaan Siap Dikucurkan
Index Berita

Topik Pilihan
Jum'at, 29 Mei 2009
PROSES FINALISASI RTRWP KALTENG
Jum'at, 29 Mei 2009
Konsultasi Publik Kereta Api
Kamis, 29 Maret 2007
INPRES PLG
Sabtu, 18 November 2006
Pertemuan Indonesian Regional Invesment Forum
Selasa, 5 September 2006
Jangan Menutup-nutupi Kemiskinan
Index Topik Pilihan

Album Foto
Selengkapnya
Selasa, 23 Februari 2010
Jaga Huma Betang
Dalam Pemilu Kada Harus Ada Keseimbangan

ATN-Center - Tokoh Kalteng Sabran Ahmad menilai, munculnya isu bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjelang Pemilu Kada di Kalteng merupakan dampak ketidakseimbangan dalam pencalonan pemimpin daerah.

Masyarakat harus mengakui Kalteng merupakan daerah berpenduduk heterogen dengan berbagai suku dan agama yang hidup dalam satu wilayah. Dalam memilih pemimpin pun demikian, yang akan maju menjadi calon gubernur maupun bupati dan wakilnya harus menerapkan sistem keseimbangan.

Untuk menyeimbangkan masyarakat yang heterogen, para calon pemimpin harus tetap menghargai perbedaan dan menjaga unsur kesimbangan agar suasana yang kondusif dapat terus terjaga.

“Misalkan gubernurnya beragama Islam, wakilnya harus dari non-Islam atau bisa juga sebaliknya. Terpenting, ada keterwakilan agama maupun suku agar tetap seimbang,” kata Sabran, Senin (22/2).

Sabran mengharapkan segenap komponen masyarakat di Kalteng  menahan diri untuk tidak melontarkan sentimen  suku maupun agama di tengah masyarakat, terutama menjelang pesta demokrasi pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Kalteng, Bupati/Wakil Bupati Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat periode 2010-2015.

“Jangan melontarkan isu SARA, itu tidak baik. Kita harus mengamalkan Pancasila dan mengakui Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda, tapi tetap satu,” katanya.

Sementara Pastor Lulus Widodo Pr menyatakan sependapat dengan pernyataan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dalam perayaan Imlek di Sampit, Kotim, untuk tidak membawa sentimen agama dalam dunia politik. Sangat tidak pantas bila ada calon Gubernur Kalteng yang mengikrarkan diri berdasarkan agama maupun suku tertentu.

Menurut Pastor Lulus, pemimpin yang baik dan layak harus memiliki visi mempersatukan masyarakatnya yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan golongan.

“Seorang calon pemimpin, saat kampanye menonjolkan agama dan suku tertentu sangat tidak tepat untuk dijadikan pemimpin,” ucapnya.

Pastor mengimbau seluruh umat beragama dapat memilih pemimpin yang baik, jujur, visioner, dan menempatkan persoalan pada tempat dan peruntukannya secara benar.

Sedangkan Pendeta Arlid Idjar dari pengurus Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Kalteng yang dihubungi di kediamannya, Senin (22/2), mengatakan, dirinya setuju bahwa sentimen agama tidak patut dibawa dalam konstelasi politik.

Dikatakannya, persaingan politik itu sah-sah saja, tetapi jangan memakai isu-isu keagamaan. Agama sebaiknya jangan terlibat dan dijadikan komoditi politik untuk kepentingan sesaat. Sebaliknya, agama itu, khususnya Gereja dalam pengertian ini harus mengayomi warga jemaat untuk bijaksana menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Kada 2010 nanti.

“Gereja menyokong warga jemaat untuk menggunakan hak pilihnya, karena itu adalah tanggung jawab kita menyukseskan dan meneruskan pembangunan di Kalteng ini,” katanya.

Ia menolak adanya upaya elemen-elemen tertentu dalam masyarakat Kalteng yang sudah mulai menjual nama-nama tokoh agama tertentu, atau bahkan lembaga keagamaan tertentu untuk dijadikan sarana mencari pendukung terhadap calon-calon pemimpin Kalteng ke depan.

Hal itu dipandangnya sangat berbahaya, karena akan menyebabkan terjadinya sikap saling curiga dan bermusuhan di antara sesama warga Kalteng yang hidup dalam falsafah Huma Betang.

“Biarlah urusan agama ditempatkan tersendiri dan urusan politik warga masyarakat secara terpisah. Marilah kita menjaga dan memelihara iklim persaudaraan dan keamanan yang sudah susah dibina selama ini dengan tidak meniup-niupkan isu-isu sektarianisme,” ujarnya.          

Jangan Terpancing Isu

Warga di Kabupaten Seruyan diimbau untuk tidak terpancing dengan isu yang biasanya muncul menjelang Pemilu Kada, apalagi isu tersebut berbau SARA.

“Kepada seluruh warga Seruyan khususnya, kami selaku kepala daerah mengharapkan agar dapat menjaga dan menahan diri supaya tidak terpengaruh ataupun terpancing dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Apalagi isu itu berbau SARA dalam menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur tahun ini,” kata Bupati Seruyan HM Darwan Ali, Senin (22/1).

Menurut Darwan, dalam Pemilu Kada Gubernur dan Wakil Gubernur, siapa pun yang terpilih, tetap dan harus didukung secara bersama-sama, karena itulah yang terbaik.

Gubernur dan Wagub yang terpilih merupakan pilihan rakyat Kalteng secara keseluruhan. Untuk itu, sebelum memilih dan menentukan pilihan, hendaknya, dilihat dulu visi dan misi figur seorang calon pemimpin tersebut.

“Pilihlah pemimpin yang jelas visi dan misinya untuk kemajuan Kalteng sesuai dengan hati nurani masing-masing, dan siapa pun orangnya, terpenting bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat Kalteng,” kata Darwan.

 Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankamenag) Kabupaten Seruyan H Akhmad Syarkawi mengatakan hal yang sama. Ia mengimbau masyarakat Kalteng, khususnya Seruyan agar tidak mudah terpancing dalam menghadapi isu-isu agama yang dilontarkan dari oknum orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam rangka menghadapi Pemilu Kada Gubernur dan Wagub 2010.

Selain itu, dalam menentukan pilihan, hendaklah memilih yang terbaik, yang bisa membawa kebaikan untuk pembangunan Kalteng. “Siapa pun orangnya, terpenting pemimpin itu benar-benar jelas visi-misinya dalam membangun Kalteng ini ke depan. Dan, pilihlah sesuai dengan hati nurani masing-masing. Jangan terpengaruh isu-isu SARA, dan kalau perlu lakukanlah shalat istikharoh sebelum mengambil keputusan, semoga diberikan petunjuk,” kata Syarkawi.

          Di Kapuas, Damang Adat Simpei Ilon menyayangkan adanya isu yang mengaitkan seorang pemimpin dengan agama.

          Menurutnya,  sudah tidak wajar jika ada orang yang mengaitkan seorang pemimpin itu adalah harus dari golongan tertentu. Ini bertentangan dengan prinsif budaya betang yang selama ini sangat dijunjung serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat Kalteng.

          Simpei mengatakan, seorang pemimpin adalah panutan dan harus berlaku adil kepada rakyatnya. Tapi beda dengan sekarang, belum menjadi pemimpin saja sudah mengait-ngaitkan dengan golongan atau agama.

“Bagaimana mau melihat golongan lain, sementara  masyarakat Kalteng ini adalah masyarakat yang  majemuk, dalam artian sangat menjunjung tinggi prinsip budaya betang yang selalu hidup berdampingan damai dengan golongan lainnya,” kata Simpei.

          Di Lamandau, tokoh masyarakat setempat M  Uman mengatakan, sebaiknya isu SARA tidak usah dimunculkan, karena akan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Masyarakat Kalteng ini terdiri dari banyak suku dan agama. Bisa jadi dengan dimunculkannya isu SARA membuat perpecahan di masyarakat,” kata Uman.

Sebagai masyarakat seharusnya berhati-hati dalam memilih beberapa calon yang akan bertarung  dalam Pemilu Kada Gubernur dan Wagub mendatang. Jangan sampai cuma gara-gara suku atau  agama, kita menutup mata dalam memilih calon-calon tersebut.

 “Kalau masyarakat hanya memandang dari agama ini atau dari suku ini tanpa menilai kelebihannya, maka akan terjadi kemunduran dan bisa saja terjadi perpecahan di masyakat baik antarsuku maupun antaragama,” kata Uman.

  (victor)


.