Jaga Huma Betang Dalam Pemilu Kada Harus Ada Keseimbangan
ATN-Center - Tokoh Kalteng Sabran Ahmad menilai, munculnya isu bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjelang Pemilu Kada di Kalteng merupakan dampak ketidakseimbangan dalam pencalonan pemimpin daerah.
Masyarakat harus mengakui Kalteng merupakan daerah berpenduduk
heterogen dengan berbagai suku dan agama yang hidup dalam satu wilayah. Dalam
memilih pemimpin pun demikian, yang akan maju menjadi calon gubernur maupun
bupati dan wakilnya harus menerapkan sistem keseimbangan.
Untuk menyeimbangkan masyarakat yang heterogen, para calon
pemimpin harus tetap menghargai perbedaan dan menjaga unsur kesimbangan agar
suasana yang kondusif dapat terus terjaga.
“Misalkan gubernurnya beragama Islam, wakilnya harus dari
non-Islam atau bisa juga sebaliknya. Terpenting, ada keterwakilan agama maupun
suku agar tetap seimbang,” kata Sabran, Senin (22/2).
Sabran mengharapkan segenap komponen masyarakat di Kalteng
menahan diri untuk tidak melontarkan sentimen suku maupun agama di
tengah masyarakat, terutama menjelang pesta demokrasi pemilihan Gubernur/Wakil
Gubernur Kalteng, Bupati/Wakil Bupati Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat
periode 2010-2015.
“Jangan melontarkan isu SARA, itu tidak baik. Kita harus
mengamalkan Pancasila dan mengakui Bhineka Tunggal Ika. Meski berbeda, tapi
tetap satu,” katanya.
Sementara Pastor Lulus Widodo Pr menyatakan sependapat dengan
pernyataan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dalam perayaan Imlek di
Sampit, Kotim, untuk tidak membawa sentimen agama dalam dunia politik. Sangat
tidak pantas bila ada calon Gubernur Kalteng yang mengikrarkan diri berdasarkan
agama maupun suku tertentu.
Menurut Pastor Lulus, pemimpin yang baik dan layak harus
memiliki visi mempersatukan masyarakatnya yang terdiri dari berbagai suku,
agama, dan golongan.
“Seorang calon pemimpin, saat kampanye menonjolkan agama dan
suku tertentu sangat tidak tepat untuk dijadikan pemimpin,” ucapnya.
Pastor mengimbau seluruh umat beragama dapat memilih pemimpin
yang baik, jujur, visioner, dan menempatkan persoalan pada tempat dan
peruntukannya secara benar.
Sedangkan Pendeta Arlid Idjar dari pengurus Persekutuan
Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Kalteng yang dihubungi di kediamannya,
Senin (22/2), mengatakan, dirinya setuju bahwa sentimen agama tidak patut
dibawa dalam konstelasi politik.
Dikatakannya, persaingan politik itu sah-sah saja, tetapi
jangan memakai isu-isu keagamaan. Agama sebaiknya jangan terlibat dan dijadikan
komoditi politik untuk kepentingan sesaat. Sebaliknya, agama itu, khususnya
Gereja dalam pengertian ini harus mengayomi warga jemaat untuk bijaksana
menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Kada 2010 nanti.
“Gereja menyokong warga jemaat untuk menggunakan hak pilihnya,
karena itu adalah tanggung jawab kita menyukseskan dan meneruskan pembangunan
di Kalteng ini,” katanya.
Ia menolak adanya upaya elemen-elemen tertentu dalam
masyarakat Kalteng yang sudah mulai menjual nama-nama tokoh agama tertentu,
atau bahkan lembaga keagamaan tertentu untuk dijadikan sarana mencari pendukung
terhadap calon-calon pemimpin Kalteng ke depan.
Hal itu dipandangnya sangat berbahaya, karena akan menyebabkan
terjadinya sikap saling curiga dan bermusuhan di antara sesama warga Kalteng
yang hidup dalam falsafah Huma Betang.
“Biarlah urusan agama ditempatkan tersendiri dan urusan
politik warga masyarakat secara terpisah. Marilah kita menjaga dan memelihara
iklim persaudaraan dan keamanan yang sudah susah dibina selama ini dengan tidak
meniup-niupkan isu-isu sektarianisme,” ujarnya.
Jangan
Terpancing Isu
Warga di Kabupaten Seruyan diimbau untuk tidak terpancing
dengan isu yang biasanya muncul menjelang Pemilu Kada, apalagi isu tersebut
berbau SARA.
“Kepada seluruh warga Seruyan khususnya, kami selaku kepala
daerah mengharapkan agar dapat menjaga dan menahan diri supaya tidak
terpengaruh ataupun terpancing dengan isu-isu yang belum jelas kebenarannya.
Apalagi isu itu berbau SARA dalam menjelang pemilihan gubernur dan wakil
gubernur tahun ini,” kata Bupati Seruyan HM Darwan Ali, Senin (22/1).
Menurut Darwan, dalam Pemilu Kada Gubernur dan Wakil Gubernur,
siapa pun yang terpilih, tetap dan harus didukung secara bersama-sama, karena
itulah yang terbaik.
Gubernur dan Wagub yang terpilih merupakan pilihan rakyat
Kalteng secara keseluruhan. Untuk itu, sebelum memilih dan menentukan pilihan,
hendaknya, dilihat dulu visi dan misi figur seorang calon pemimpin tersebut.
“Pilihlah pemimpin yang jelas visi dan misinya untuk kemajuan
Kalteng sesuai dengan hati nurani masing-masing, dan siapa pun orangnya,
terpenting bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan rakyat Kalteng,” kata
Darwan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama
(Kakankamenag) Kabupaten Seruyan H Akhmad Syarkawi mengatakan hal yang sama. Ia
mengimbau masyarakat Kalteng, khususnya Seruyan agar tidak mudah terpancing
dalam menghadapi isu-isu agama yang dilontarkan dari oknum orang-orang yang
tidak bertanggung jawab dalam rangka menghadapi Pemilu Kada Gubernur dan Wagub
2010.
Selain itu, dalam menentukan pilihan, hendaklah memilih yang terbaik,
yang bisa membawa kebaikan untuk pembangunan Kalteng. “Siapa pun orangnya,
terpenting pemimpin itu benar-benar jelas visi-misinya dalam membangun Kalteng
ini ke depan. Dan, pilihlah sesuai dengan hati nurani masing-masing. Jangan
terpengaruh isu-isu SARA, dan kalau perlu lakukanlah shalat istikharoh
sebelum mengambil keputusan, semoga diberikan petunjuk,” kata Syarkawi.
Di Kapuas, Damang Adat Simpei Ilon menyayangkan adanya isu yang mengaitkan
seorang pemimpin dengan agama.
Menurutnya, sudah tidak wajar jika ada orang yang mengaitkan seorang
pemimpin itu adalah harus dari golongan tertentu. Ini bertentangan dengan
prinsif budaya betang yang selama ini sangat dijunjung serta diterapkan dalam
kehidupan masyarakat Kalteng.
Simpei mengatakan, seorang pemimpin adalah panutan dan harus berlaku adil
kepada rakyatnya. Tapi beda dengan sekarang, belum menjadi pemimpin saja sudah
mengait-ngaitkan dengan golongan atau agama.
“Bagaimana mau melihat golongan lain, sementara masyarakat
Kalteng ini adalah masyarakat yang majemuk, dalam artian sangat
menjunjung tinggi prinsip budaya betang yang selalu hidup berdampingan damai
dengan golongan lainnya,” kata Simpei.
Di Lamandau, tokoh masyarakat setempat M Uman
mengatakan, sebaiknya isu SARA tidak usah dimunculkan, karena akan menimbulkan
perpecahan di kalangan masyarakat.
“Masyarakat Kalteng ini terdiri dari banyak suku dan agama. Bisa jadi
dengan dimunculkannya
isu SARA membuat perpecahan di masyarakat,” kata Uman.
Sebagai masyarakat seharusnya berhati-hati dalam memilih
beberapa calon yang akan bertarung dalam Pemilu Kada Gubernur dan Wagub
mendatang. Jangan sampai cuma gara-gara suku atau agama, kita menutup
mata dalam memilih calon-calon tersebut.
“Kalau masyarakat hanya
memandang dari agama ini atau dari suku ini tanpa menilai kelebihannya, maka akan
terjadi kemunduran dan
bisa saja terjadi perpecahan di masyakat baik antarsuku maupun
antaragama,” kata Uman.