Pemilu Kada Teras : Jangan Bawa Sentimen Agama Dalam Politik
ATN-Center - Selaku orang nomor satu di Kalimantan Tengah, Gubernur Agustin Teras Tarang mulai prihatin mencermati kondisi politik di Kalimantan Tengah yang mulai kurang santun. Menjelang pelaksanaan pesta demokrasi regional yang akan segera tiba, Teras mengajak semua pihak yang akan bertarung dalam Pemilu Kada untuk berperilaku satria dan jangan membawa sentimen agama dan suku.
Selaku orang nomor satu di Kalimantan Tengah, Gubernur Agustin
Teras Tarang mulai prihatin mencermati kondisi politik di Kalimantan Tengah
yang mulai kurang santun. Menjelang pelaksanaan pesta demokrasi regional yang
akan segera tiba, Teras mengajak semua pihak yang akan bertarung dalam Pemilu
Kada untuk berperilaku satria dan jangan membawa sentimen agama dan suku.
Hal tersebut diungkapkan Teras saat menghadiri perayaan Imlek bersama kaum Tionghoa
di Gedung Serba Guna Sampit, Minggu (20/2).
Menurutnya, pelaksanaan Pemilu Kada sebenarnya sebuah hal yang
biasa-biasa saja. Bukan sebuah hal yang luar biasa.
“Adalah hak dan kewajiban semua pihak di Kalimantan Tengah
untuk mencari pemimpin yang dapat mengayomi dan melindungi seluruh rakyat,”
tegas Teras di hadapan ribuan undangan yang hadir di acara tersebut.
Gubernur yang sukses meningkatkan APBD Kalteng hingga Rp2,1
triliun ini juga mengimbau semua pihak untuk tidak menggunakan sentimen
agama, suku, dan kelompok bagi kepentingan politik.
Teras mengaku tidak rela hal ini sampai terjadi, sebab
Provinsi Kalteng didirikan atas dasar kebersamaan agar penduduk Bumi Tambun
Bungai sejahtera dan maju.
Karena
itu selaku Gubernur yang bertanggung jawab atas situasi dan kondisi Provinsi
Kalteng, Teras memerintahkan aparatur pemerintah dan aparat keamanan
untuk tidak mentolerir pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan dan
kesatuan daerah ini.
“Khusus kepada aparatur hukum di Kalteng, saya selaku penanggung jawab keamanan
dan ketertiban di daerah ini memerintahkan saudara untuk mengusut siapa saja
pihak-pihak yang berupaya mengganggu keamanan dan ketertiban Kalteng, terlebih
lagi pihak luar yang ingin menggunakan sentimen agama. Aparatur hukum harus
memperhatikan hal ini,” tegas Teras lagi.
Hal lain yang juga ditekankannya, rakyat Kalteng sudah pernah merasakan
kehidupan dalam sejarah yang hitam di mana telah terjadi konflik SARA
yang sangat menyakitkan.
“Proses rekonsiliasinya atau pemulihannya begitu sulit dan
lama. Kita semua tentunya tidak ingin hal ini terulang lagi. Karena itu mari
kita semua senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan.”
Sementara itu berkaitan dengan perayaan Imlek 2561 yang dirayakan secara
bersama oleh etnis Tionghoa di Kota Sampit dan sekitarnya, menurut Teras,
dirinya sangat menyambut baik perayaan ini.
Ditegaskannya, Negara sudah menjamin kesetaraan antara etnis Tionghoa dan etnis
lainnya dengan diterbitkannya UU No. 12 tahun 2006. Dengan adanya instrumen
Negara yang mengatur kesetaraan ini, berarti pranata diskriminatif sudah tidak
ada lagi. Teras mengaku tidak ingin mendengar kalau etnis Tionghoa masih
dipersulit apabila berurusan dengan aparatur negara.
“Saya minta semua aparatur pemerintah di Kalteng supaya jangan pernah
mempersulit etnis Tionghoa, terutama saat mengurus masalah kependudukan,
perkawinan, dan perizinan,” ucap Teras yang langsung mendapat aplaus meriah
dari seluruh hadirin.
Selama ini bangsa Indonesia
sudah mengenal yang namanya perayaan tahun baru Hijriah, tahun baru Masehi, dan
tahun baru Saka serta tahun baru Imlek. Semua ini hendaknya selalu disyukuri
dan jangan dijadikan perbedaan agar semua bisa lebih baik.
Pranata diskriminatif masa lalu di negara ini hendaknya dijadikan pelajaran
berharga untuk tidak pernah terjadi lagi. Perbedaan memang memungkinkan
terjadinya konflik yang tinggi, namun konflik pasti bisa diatasi sepanjang
semua pihak, terutama tokoh-tokoh agama dan masyarakat mau menyadari konflik
dapat merugikan semua pihak.
“Saya sangat berharap tokoh agama dan masyarakat bisa menjadi contoh dan
tauladan yang baik bagi seluruh mayarakat. Jangan sampai main hakim sendiri
dalam menyelesaikan persoalan, sebab hal ini pasti akan semakin memperuncing
persoalan,” kata Teras.
Di akhir sambutannya, Teras mengucapkan selamat tahun baru kepada seluruh etnis
Tionghoa di mana saja berada. Teras meminta kepada etnis Tionghoa untuk turut
memberikan karya bakti bagi pembangunan Kalteng.